Soal Tudingan Pelanggaran Privacy Aplikasi Zoom

Penyebaran virus Covid-19 yang kian memprihatinkan dari hari ke hari membuat otoritas negara mulai memerintahkan masyarakat untuk melaksanakan kegiatan bekerja dari rumah. Hal ini dilakukan untuk menekan jumlah korban yang terinfeksi. Sampai sekarang, belum ada vaksin yang tepat untuk menyembuhkan penyakit ini, selain mengandalkan imunitas seseorang tersebut saja.

Terkait dengan judul, akibat banyaknya perusahaan yang melaksanakan kegiatan work from home (WFH), tentunya menyebabkan kegiatan ber-video conferencing menjadi kebutuhan yang lazim. Koordinasi terkadang tidak cukup dilakukan via teks saja, namun terkadang kita butuh tampilan video dan suara. Hal ini untuk saling menguatkan dan menunjukkan bahwa kita masih solid.

Nah, salah satu aplikasi video conference yang cukup populer adalah Zoom. Ia dimanfaatkan sebagai sarana tatap muka dari rumah untuk berbagai keperluan, tidak melulu soal meeting pekerjaan. Pelajar atau mahasiswa yang melaksanakan pembelajaran di rumah juga menggunakan aplikasi ini. Bahkan, sekedar melepas kangen dengan rekan dan kolega juga dilakukan menggunakan Zoom.



Mengapa Zoom bisa begitu populer, sementara ada banyak produk video conference lain yang beredar di luar sana? Paling tidak, ada empat aplikasi serupa dan mereka di-backup oleh perusahaan besar semacam Google (Google Meet), Cisco (Cisco Webex), dan Apple (Facetime). Jawabannya adalah inovasi yang ditawarkan serta tingkat latency yang rendah.

Selain mempunyai fitur dasar, seperti conference dan screen sharing, Zoom memiliki fitur "green screen" yang memungkinkan Anda untuk mengganti latar belakang ketika sedang ber-conference ria. Berkat fitur ini, Anda bisa berpura-pura sedang ada di Paris atau Makkah ketika sedang melakukan meeting. Hal ini juga didukung oleh latency jaringan yang rendah sehingga tampilan dan suara tidak terganggu meski jaringan internet sedang tidak stabil.

Terkait dengan tudingan pelanggaran privasi yang diarahkah kepada pengembang Zoom, saya merasa hal ini sangat terkait dengan kutipan lawas yang masih relevan hingga sekarang. Berikut ini adalah kutipannya:
"If you don't pay for the product, you are the product."
Zoom memberikan layanan gratis kepada para penggunanya. Lazimnya layanan online yang gratis, biasanya mereka menghasilkan uang dengan cara mengekstraksi data dari pengguna (big data). Selanjutnya, data itu dijual kepada pengiklan. Dalam hal ini, pengiklan adalah klien, dan pengguna yang menikmati konten gratis adalah apa yang sedang dijual. Hal ini berlaku juga untuk layanan lain semisal Whatsapp, Facebook, Instagram, dkk.

Erdward Snowden (mantan agen NSA) sudah memberikan (bocoran) pernyataan sebelumnya bahwa jaringan intelejen dunia (NSA untuk Amerika dan GCHQ untuk Inggris) saling berbagi data. Melalui project PRISM, NSA mendapatkan otoritas untuk mengakses server perusahaan teknologi terkemuka semacam Google, Facebook, Microsoft, Apple, dan masih banyak lagi. Sampai sekarang, Snowden masih dianggap penghianat oleh Amerika.

Jadi, memang tidak ada yang aman. Bahkan server private yang Anda bangun sendiri, belum tentu aman jika diakses menggunakan koneksi internet yang disadap oleh agen NSA. Sebagai contoh, di Amerika, provider internet yang cukup umum adalah Verizone. Mereka merupakan mitra utama penyadapan NSA. Tidak hanya Verizone, hampir semua provider internet di Amerika dapat dipaksa untuk bekerja sama dengan NSA.

Balik lagi ke soal aplikasi Zoom tadi, agak hipokrit juga ketika Anda begitu peduli dengan privasi (privacy concern), sementara Anda masih menggunakan produk-produk lain yang juga "menyetor" data-data Anda ke pihak yang tidak diinginkan. Lucu juga sih, ketika ada orang menyarankan jangan menggunakan Aplikasi Zoom karena mereka mengunggah data pengguna ke Facebook, sementara ia sendiri masih memakai Instagram (by Facebook).

Terus ke persoalan data breach (kebocoran data pengguna) dan disebar di dark web. Ketika file sudah diletakkan di internet dan dapat diakses oleh publik, maka resiko seperti ini pasti selalu ada. Jangankan Zoom. Perusahaan sekelas Apple dan Adobe pun pernah mengalami data breach. Data-data pelanggan pun di sebar di berbagai forum hacker. Jika ini terjadi, segera ubah password akun Anda untuk meminimalisasi akun diambil alih.

Ada lagi yang lucu-lucu terjadi di Indonesia, terkait Zoom ini. Jika di luar negeri persoalan Zoom lebih kepada data breach, zoom bombing, pelanggaran privacy dan setor data ke Facebook, serta enkripsi data komunikasi yang lemah, di Indonesia ada juga persoalan dana saldo di bank hilang. Bahkan saya kira sneakers mahal yang hilang di halaman rumah ketika habis dicuci juga gara-gara habis menginstall aplikasi Zoom di HP.

Btw semua problem yang saya sebutkan tersebut sudah ditambal oleh Zoom. Jika memang Anda masih memakai aplikasi Zoom, segera perbarui aplikasi Anda ke versi terkini.

Beberapa bahan bacaan

Comments

Popular posts from this blog

Kata yang Dicetak Miring

Soal Tulisan di Belakang Truk

Contoh Klausa Numeralia yang Salah